Senin, 06 Mei 2013

Hijrah Rasulullah SAW ke Madinah (Yatsrib)


Hijrah = meninggalkan semua perbuatan yang dilarang dan dimurkai oleh Allah SWT untuk melakukan perbuatan – perbuatan yang baik dan diridai-Nya. Rasulullah SAW bersabda: “orang yang berhijrah itu ialah orang yang meninggalkan segala apa yang dilarang Allah SWT”.
Hijrah = berpindah dari suatu negeri kafir (non-Islam) dikarenakan umat Islam selalu mendapat tekanan dan ancaman sehingga tidak memiliki kebebasan dalam berdakwah dan beribadah.
Allah berfirman dalam surah An-Nahl: 41-42 “Dan orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka didunia. Dan pahala di akhirat pasti lebih besar, sekiranya mereka mengetahui (yaitu) orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” 
Rasulullah SAW Hijrah dari Mekkah ke Madinah pada tanggal 12 Robiul Awal tahun pertama hijriyah. Tujuan hijrahnya Nabi Muhammad adalah untuk menyelamatkan diri dan umat Islam dari tekanan, ancaman, dan kekerasan kaum Quraisy dan juga agar memperoleh keamanan dan kebebasan dalam berdakwah serta beribadah.

Sebelum Islam datang, kota Madinah bernama kota Yatsrib. Penduduknya terdiri dari dua golongan besar yang sering bertikai dan berperang, yaitu:
1. Golongan bangsa Yahudi yang terdiri dari :
·         Bani Qainuqa
·         .Bani Quraizah
·         .Bani Nazir
2.  Golongan bangsa Arab yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj.Ketika agama Islam diterima

Kota Yatsrib termasuk daerah subur dan pusat pertanian serta merupakan jalur perdagangan ramai yang menghubungkan antara Yaman di selatan dan Syiria di Utara.

Ketika agama Islam dapat diterima dengan baik oleh penduduk Yastrib, Nabi Muhammad kemudian mengizinkan umat Islam yang ada di Mekkah untuk berhijrah ke Yastrib yang saat ini dikenal dengan Madinah. Rasulullah SAW berkata kepada para sahabatnya itu “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla telah menjadikan orang – orang Yastrib sebagai saudara – saudara bagimu dan negeri itu sebagai tempat yang aman bagimu.” Orang – orang Quraisy yang mengetahui akan perkembangan Islam di Yastrib semakin khawatir apabila Nabi Muhammad berkuasa di Yastrib. Maka para pemuka – pemuka Quraisy melakukan persidangan untuk merencanakan tindakan apa yang akan diambil terhadap Nabi, akhirnya mereka memutuskan untuk membunuh Nabi Muhammad demi keselamatan masa depan mereka.

Di malam yang sudah direncakana oleh kaum Quraisy, mereka mengirim kan seorang pemuda pilihan dari setiap sukku Quraisy untuk membunuh Nabi. Namun diwaktu yang bersamaan, Rasulullah menyuruh Ali Bin Abi Thalib untuk menggunakan jubahnya yang berwarna hijau dan tidur di kasur beliau. Rasulullah meminta Ali supaya tinggal dulu di Mekkah untuk beberapa keperluan dan melaksanakan amanat umat sebelum berangkat Hijrah.

Para pemuda yang dikirim oleh bangsa Quraisy, mengintip dari celah jendela kea rah kamar Rasulullah dan melihat sosok yang sedang tertidur di kasur. Merekapun puas karena orang yang diincar belum lari. 

Menjelang larut malam, Rasulullah keluar rumah menuju kediaman Abu Bakar Ashshiddiq. Beliau keluar melalui jendela pintu belakang kearah selatan ke kota Yaman, tujuannya adalah Gua Tsur.

Para pemuda Quraisy yang berencana menyergap rumah Rasulullah, akhirnya memasuki rumah beliau dan alangkah terkejutnya yang mereka dapatkan bukanlah Muhammad melainkan Ali. Maka pencarian dan pengejaran secara besar – besaranpun dilakukan oleh bangsa Quraisy. Mereka menawarkan 100 ekor unta bagi yang dapat menemukan Muhammad.

Setelah keluar rumah, Nabi Muhammad menempuh perjalanan ke Gua Tsur yang berjarak ±7 km di selatan kota Mekkah, sedangkan Yastrib sendiri berada di sebelah Utara Kota Mekkah dan berjarak 320 km (200 mil) dapat ditempuh dalam 14 hari. Hal ini dilakukan beliau untuk mengelabui kaum Quraisy yang telah mengepung kota Mekkah dengan melewati jalur yang tidak biasa menuju ke Yastrib.

Dalam perjalanannya, Rasulullah ditemani oleh Abu Bakar Ahshiddiq. Dalam perjalanannya, Abu Bakar terkadang berjalan di depan Rasulullah dan terkadang di belakang Rasulullah. Melihat ini, kmeudian Rasulullah bertanya dan Abu Bakar pun menjawab ”Wahai Rasulullah, kalau saya ingat pengintai didepan, maka saya sengaja berjalan di depan, kalau saya ingat pengejar, maka saya berjalan dielakang.”

Kata Rasulullah “Apakah kamu ingin jika terjadi sesuatu, engkau yang mengalaminya, bukan aku?” . lalu Abu Bakar menjawa lagi “iya.” Demikianlah hingga keduanya sampai di dalam Gua Tsur. Para pengejar tidak dapat melacak keberadaan Rasulullah karena di muka gua terdapat jaring laba – laba yang mengidentifikasikan bahwa tidak ada yang melewati gua untuk rentan waktu yang lama.

Didalam gua, Abu Bakar sangat khawatir mendengar langkah kaki para pengejar. Ia berkata kepada Rasulullah ”Wahai Rasul, andai salah seorang dari mereka menemukan kita, habislah kita. Jika aku mati, apalah diriku. Tapi jika dirimu yang mati, tamatlah riwaat dan dakwahmu. Bagaimana jadinya?”.

Beliau menjawab dengan balik bertanya, “Bagaimana menurutmu dengan (keadaan) dua orang dimana Allah adalah yang ketiganya? janganlah bersedih sesungguhnya Allah bersama kita.

Rasulullah dan Abu Bakar tinggal di dalam Gua selama 3 hari yaitu Jumat, Sabtu, dan Ahad. Selama itu berlangsung pertolongan bagi mereka berdua:
1.      Abdullah Bin Abu Bakar (putra Abu Bakar), mendatangi gua pada malam hari dan menyampaikan berbagai rencana dan kegiatan orang – orang kafir terhadap mereka.
2.      Asma (putrid Abu Bakar), setiap hari membawa makanan untuk Rasulullah dan ayahnya
3.      Amir Bin Fuhairah (pembantu Abu Bakar), menggiring domba – domba peliharaannya pada malam hari sehingga Nabi dan Abu Bakar dapat meminum perasan susunya
4.      Abdullah Bin Ariqat Laitsi (seorang Kafir yang dapat dipercaya), datang ke gua pada hari ketiga dengan membawa unta.

Pada waktu itu, Abu Bakar menawarkan satu dari unta tersebut sebagai hadiah untuk Rasulullah, namun Rasulullah menolaknya dan memaksa membeli unta itu. Abu Bakarpun terpaksa menerima pembayaran unta tersebut seharga 400 dirham. Unta inilah yang dikenal sebagai unta Rasulullah yang dinamau Quswa.

Pada malam senin tanggal 1 Raobiul awal tahun pertama hijriyah atau 16 September 622 M, Rasulullah SAW, Abu Bakar Ashshiddiq, Amir Bin Fuahirah, beserta Abdullah Bin Uraiqith sebagai penunjuk jalan keluar dari Gua Tsur dan berangkat menuju Madinah pada siang hari.

Manakala Rasulullah menyusuri pantai dalam perjalanannya menuju Madinah, di daerah Bani Mudlij, seseorang melihat mereka dan melaporkan kepada Suraqah bin Malik bin Ju’syum (pemimpin daerah tersebut). Namun ia menyangkalnya karena ingin menangkap Rasulullah dan sahabatnya sendirian dengan iming – iming harta yang ditawarkan bangsa quraisy.

Setelah itu, dia memacu kudanya mengejar Rasulullah dan Abu Bakar. Abu Bakar yang mengetahuinya berkata, Ya Rasulullah, lihat Suraqah bin Malik mengikuti kita.” Rasulullah pun berdoa. Akhirnya kuda 
Suraqah beberapa kali tersungkur. Kemudian dia berputus asa, lalu Suraqah memanggil nama Nabi dan meminta perlindungan dari bahaya dan juga mengucapkan beribu maaf. 
  
   Suraqah kemudian menyerahkan tambahan bekalan makanan kepada Rasulullah, namun Rasulullah menolak secara halus sambil mengatakan, “Tidak. Tapi alihkan perhatian para pengejar dari kami.” Maka setelah itu setiap kali bertemu dengan para pencari jejakrombongan Rasulullah, Suraqah selalu mengatakan: “Saya sudah mencari maklumat dan tidak terlihat yang kalian cari.’

 Demikianlah, awalnya dia berusaha menangkap Rasulullah dan Abu Bakar, namun akhirnya dia menjadi pelindung.

Dari Suraqahlah Nabi mulai mengetahui tentang imbalan 100 ekor unta jika berhasil menangkapnya. Nabi tersenyum dan memerintahkan untuk merahasiakan tentang kepergian dirinya.

Selanjutnya Nabi dan sahabat Abu Bakar singgah di sebuah perkemahan milik seorang perempuan bernama Ummu Ma’bad. Mereka hendak membeli kurma, daging, dan air susu. Pada saat itu nabi melihat seekor kambing yang kurus menderita payah dan sakit. Beliau hendak memerah susunya dengan ijin Allah memancarlah begitu banyak air susu, padahal kambing itu sudah tidak bisa lagi mengeluarkan air susu. Susu kambing itu kemudian ditampung dalam sebuah bejana. Rasulullah menyuruh Ummu Ma’bad minum, setelah itu para sahabatnya, baru kemudian Rasululah sendiri.

Setelah semua puas, Raasulullah memenuhi bejana itu kembali dan meninggalkannya di sana, kemudian meneruskan perjalanan. Tidak lama kemudian, Abu Ma’bad suami Ummu Ma’bad pulang dan terheran - heran melihat bejana yang penuh dengan air susu. Dia bertanya dari mana ini susu itu datangnya? Ummu Ma’bad mengatakan bahawa baru saja singgah seorang lelaki penuh berkat dengan sifat demikian dan demikian. Mendengar keterangan isterinya, Abu Ma’bad segera meyakini bahawa orang itulah yang dicari-cari kaum Quraisy. Ia pun bercita  - cita untuk bertemu dengan Rasulullah dan menjadi pengikutnya.

Tiba di Madinah

      Orang-orang Ansar yang mendengar berita keluarnya Rasulullah dari bandar Dan Makkah berusaha untuk menanti. Setiap hari dari pagi hingga matahari meninggi, mereka menunggu kedatangan rombongan Rasulullah di pinggiran bandar. Namun setelah beberapa hari, yang ditunggu belum juga tampak.

    Akhirnya, Rasulullah tiba dengan selamat di kota Madinah pada hari Jum’at, 12 Rabi’ul Awwal, tahun 13 Ke­nabian/12 atau 13 September 622 M. Saat itu seorang Yahudi yang ketika memanjat rumahnya untuk suatu keperluan, melihat bayangan dari jauh dan tidak dapat menahan dirinya. Dengan lantang dia berteriak bahawa yang ditunggu-tunggu telah datang.

     Mendengar hal itu, orang-orang Ansar bergegas menyandang senjata dan menuju ke pinggiran bandar menyambut rombongan Rasulullah. Kaum muslimin bertakbir gembira dengan kedatangan rombongan Rasulullah ini. Mereka menyambut dengan penuh kehormatan menurut syariat Islam. Setelah melalui berbagai rintangan, Rasulullah bersama rombongan akhirnya berjaya memasuki bandar Madinah.


Sabtu, 20 April 2013

Wecana: Muludan

        Muludan, mulud lan tambahan kang sing asal sasi mulud tanggalan Islam utawa tanggalan Arab  bari tanggalan Jawa, lan sing makna keramen. Dadie Muludan yaiku rame - rame grayaning sing sasi mulud. Sapa kang direme - ramening yaiku lahire Kanjeng Nabi Muhammad SAW, awitan ning tanah Jawa dirayaning asale, sing sekatenan Surakarta bari Yogyakarta.
        Asale sekatenan, sekatenan asale sing Kraton Surakarta utawa Solo, sebabe kraton Surakarta kuwen luwih tua awune diabnding ning Kraton Yogyakarta. Asale kraton keloro kuwen sing Kraton Kartasura. pas kang merintah kraton Kartasura wafat dibagi dadi loro kang kakange ngadekning Surakarta lamun adike ngadekning Yogyakarta kang diarani Mataram. Sekaten asale sing Kraton Surakarta terus dimelu bari Kraton Yogyakarta utawa Mataram. Sekaten asel sing sahadatin utawa sahadatan yaikut ngisalamning, sekalian bari meringati lahire Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
        Bisa ning Cerbon, hubungan Kraton Kasepuhan bari Kraton Mataram ikut luket pisan makane pas Kratom Mataram jaluk supaya Keraton Kesepuhan memeringati lahire Nabi Muhammad SAW, sebabe Cerbon iku kang paling awitan kang nyebarning agama Islam ning Jawa Kulon, dadi Kraton Kesepuhan nyetojoni, teruse dimeluwi bari Kraton Kanoman. Ning arane balik Sekatenan yaiku Muludan.
        Makna Muludan, maka Muludan ikut rasae sing rohani lan jasmani kanggo sekabehe. Asale kang lagi manjing Islam saat kuwen beli ngerti lamun bersihi senjata lan benda keraton berseni sing sebagian berseni jasmani, sebab Rasulullah ngendikining lamun kebersihan sebagian manjing Iman. kebersihan sing banyu lan benda kuwen didadening ngelalap berkah. Maning sekiyen kang arane Muludan yaiku belik afdol lamun beli tuku tahu petis, ning pelataran keraton iku cirihase Muludan. Dadie makna Muludan salah kaprah.

#Wacana diatas semuanya menggunakan bahasa Cirebon :) kalau agan - agan orang Jawa atau Sunda pasti sedikitnya ngerti, karna bahasa Cirebom adalah campuran antara Jawa dan Sunda.

Wecana: Sunan Gunung Jati

        Ana neng purs Prabu Siliwangi kang arane Pangeran Walangsungsang lan Rarasantang telung wengi berturut - turut samar - samar mimi ketemu bari Nabi Muhammad SAW. Sejak jeronang mimpine seolah - olah Nabi Muhammad SAW, wis ngajarnang agama Islam karo deweke. Kelorone dadi ngerasa pengen mimpi maning, mong kedadian mau gur terjadi telung bangi bae.
        Pas Wengi iku ning daerah Cirebon ana sak wijine ulama soko Baghdad arane Syaikh Idlofo Mahdi utawa kang luwih dikenal sebutan Syaikh Datuk Kahfi uwis ngadeknang perguruan Islam ening kana.
        Seng arane Syaikh Datuk Kahfi utawa uwong ulama sok nang Datuk Kahfi iku dirungu bari Pangeran Walangsungsang lan Rarasantang. Mangkane kelorone dadi pengen meguru bari Datuk Kahfi kepengen iku disampai nang bari kangramane. Mung Prabu Siliwangi balihi ngajinang. Sebabe kepengen pisan belajar agama Islam iku uwis beli bisa dibendung maning. Akhire kelore kakang bari adik iku bedal seng istana lunga nang Gunung Jati. Nang kana kelore tenan - tenan mempelajari agama Islam kang diajar bari Datuk Kahfi.
        Seuwise cukup suwe, Datuk Kahfi ungpai piwulangan. Pangeran Walangsungsang dipintah nang buka hutan nag bagian kidul Gunung Jati. Mung pirang dina bae hutan wis dibuka. Terus diadegnang padukuhan. Soyo suwe tambah ake bae uwong kang netep nang kono, akhire pangeran Walangsungsang sang diangkut dai pemimpin kang dipai gelar Pangeran Cakrabuana lan tempat iku diarani Tegal alang - alang.
        Datuk Kahfi erasa bangga lan puas duweni murid kaya Pangeran Cakrabuana ku. Makae Pangeran Cakrabuana lan Rarasantang diprintah nang lunga haji nang Mekkah. Disamping menunaikan ibadah haji, kelore masih nerusnang belajaar agama karo sakuwijine ulama, kang arane Syaikh Bayunillah.
        Diceritanang, lamun nang mana Rarasantang akhire nikah bari raja Mesir kang duda arane Sultan Syarif Abdullah. Bab Rarasantang seuwise nikah arane diganti Syarif Maulana. Perkawinane iku duweni putra loro cacahe kang arane Syarif Hidayatullah lan adike arane Syarif Nurullah.
        Sementara ku, Pangeran Cakrabuana pernah tinggal nang Mesir suwene telung tahun. Teruse balik nang Jawa lan diri nang negara anyar yaiku Caruban Larang.
        Secepete negara Caruban Larang ku uwis kesohor nang seluruh Jawa. Prabu Siliwangi selaku penguasa daerah Jawa kulon (barat), uwis negrustui tampuk pemerintah putrane, malah sang Prabu memberi gelar Srimanggana kenggo putrane yaikut Pangeran Cakrabuana.

#Wacana diatas semuanya ditulis dalam bahasa Cirebon :)

Senin, 15 April 2013

Bross Dari Biji Srikaya

Tau buah srikaya? ituloh yang kulitnya warna ijo berbentuk bulat dengan bentol - bentol, dan isi buahnya berwarna putih dengan biji disetiap bagian buahnya. Selain rasa buahnya enak, bijinya juga bisa kita manfaatin untuk berkreasi ria hehehe. Oke langsung aja, kita bakalan bikin bross dari limbah biji srikaya. bahan - bahan yang diperlukan:
1. Pastinya biji buah srikaya
2. Kancing (bentuk apapun sesuai selera)
3. Lem lilin, atau lem alteko juga boleh. pokoknya judulnya LEM
4. Kain Flanel sedikit aja

Step by stepnya :
1. Susun biji srikaya diatas kain flanel yang berbentuk lingkaran kecil, tempel menggunakan lem lilin


2. Pilih kancing, dan tempel susunan biji srikaya yang berbentuk bunga pada kancing tersebut.


3. Dan inilah hasilnya....

Bagian belakangnya akan terlihat seperti ini












Oke, Sekian postingan untuk kali ini. semoga menginspirasi dan membantu :D